Yang Dirindu Dan Disoal Dari Orientasi Studi Mahasiswa

Info Kuipper School.
Sejak beberapa tahun terakhir suara sumbang terhadap kegiatan orientasi studi dan penggenalan kampus banyak dipersoalkan oleh berbagai kalangan, tujuan awal dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan lebih dekat  kepada calon mahasiswa tentang keberadaan kampus yang telah mereka pilih serta sistim dan peraturan yang dijalankan di sebuah kampus.

Kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus dan pengenalan jurusan yang ada di kampus-kampus saat ini sudah melenceng dari konsep awal kegiatan itu dibuat. Untuk itu, sejumlah pengamat pendidikan mendesak pemerintah mengevaluasi keberadaan orientasi dan rangkaiannya, bahkan jika perlu menghapusnya.

"Saya juga pernah jadi mahasiswa. Konsep orientasi studi dan pengenalan kampus dan pengenalan jurusan tidak seharusnya seperti itu," tegas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Soedijarto.Orientasi studi dan pengenalan kampus dan rangkaiannya merupakan momentum bersejarah bagi setiap siswa yang memasuki pintu gerbang perguruan tinggi. Orientasi itu, dengan seluruh rangkaian acaranya, merupakan awal pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru.

Baik-tidaknya kepribadian mahasiswa di sebuah perguruan tinggi sedikit-banyak ditentukan oleh baik-tidaknya pelaksanaan pengenalan kampus di perguruan tinggi tersebut.Pengenalan kampus merupakan masa ketika lulusan SMA diperkenalkan dengan kampus, mulai dari dosen, lingkungan kampus, hingga cara belajar yang berbeda dengan di jenjang SMA. "Di kampus, jam kuliahnya tidak seperti di sekolah yang jam 7–13, yang seperti itu perlu diperkenalkan," papar dia.

Ia menegaskan bahwa perkembangan kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus yang berbau fisik seperti ini hanya terjadi di Indonesia. "Di Amerika sekalipun tidak ada orientasi studi dan pengenalan kampus seperti itu," tegas Ketua Dewan Pembina Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) itu.

Soedijarto bahkan prihatin dengan konsep orientasi pengenalan kampus yang keliru ini yang justru ditiru jenjang-jenjang pendidikan di bawahnya. "Lihat saja jenjang SMA dan SMP, konsepnya sudah mirip-mirip orientasi di kampus yang sebenarnya keliru," sesal Soedijarto.

Atas segala keprihatinan penyelenggaraan kegiatan orientasi bagi calon mahasiswa baru ini, patut mendapat perhatian dari pengelola perguruan tinggi, untuk memperbaiki sistim kegiatan orientasi yang dilakukan, sehinggga jangan lagi ada korban akibat kegiatan orientasi kampus yang melenceng dan ngawur.

Sebaiknya dengan keinginan dan pengawasan bersama dari semua elemen di sebuah perguruan tinggi, serta pelibatan peran serta masyarakat dalam pengawasan, kegiatan orientasi ini kembali ditempatkan pada keinginan bersama untuk memperoleh manfaat positif dan kebaikan dalam pendidikan yang mencerdaskan dan membebaskan dari segala macam "perbudakan".

Informasi Terbaru

Back To Top