Rezim UN Kian Redup Guru Harus Tampil Lebih Dinamis

Info Kuipper School.
Perubahan paradigma dalam Ujian nasional yang dimulai pada tahun 2015 ini yang menyatakan bahwa; ujian nasional bukan sebagai penentu kelulusan siswa patut disikapi dengan sukacita oleh para pendidik, karena otoritas mereka sebagai orang yang paling mengetahui kondisi setiap siswa yang dididiknya dikembalikan kembali untuk menentukan layak lulus dan tidaknya seorang anak.

Walaupun disikapi dengan sukacita, tetap saja para pakar pendidikan banyak yang menyuarakan agar ujian nasional tidak diberlakukan lagi dalam sisitim pendidikan di Negara kita, salah satu yang coba kami kutip pandangan seorang pemerhati pendidikan Nugroho Widiyanto seorang kandidat Doktor di Ohio State University, yang kami pertimbangkan mempunyai pandangan yang berada pada pusaran tengah atas pro-kontra ujian nasional.

Runtuhnya rezim UN harus disambut gembira para guru bidang studi yang selama ini disepelekan siswa karena tidak masuk dalam materi UN, seperti Pendidikan Seni dan Pendidikan Jasmani. Pada masa rezim UN masih berkuasa, pemerintah begitu giat “membuktikan” keberhasilan pendidikan kita dengan mengirimkan para siswa pilihan untuk mengikuti berbagai olimpiade Matematika dan Sains tingkat internasional.

Akan tetapi, usaha ini tidak lengkap dan cenderung mengistimewakan guru dan mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Padahal, pandangan sempit ini sudah ditentang oleh pemikiran Howard Gardner (1983) tentang multiple intelligences yang menguraikan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan oleh IQ yang mendasarkan dari logika matematika dan bahasa, tetapi juga meliputi segenap aspek kemanusiaan yang lain, seperti kecerdasan kinestetik tubuh, musik, ruang-visual, alam, interpersonal, dan intrapersonal.

Dengan pemahaman multiple intelligence ini, para siswa, guru, dan orangtua akan menyambut datangnya hari konser atau invitasi olahraga sekolah seperti mereka mempersiapkan UN. Untuk itu, para siswa akan bergairah mengasah kecerdasan musik mereka dalam paduan suara, band maupun orkes simfoni. Demikian juga dalam bidang olahraga, para siswa melatih diri mengembangkan kecerdasan kinektetik tubuh saat mengocek bola atau mengayunkan raket badminton.

Saat hari konser atau pertandingan tiba, mereka semua memang merasakan kekhawatiran, apakah para siswa itu akan tampil dengan prima seperti yang selama ini dilatihkan, tetapi ada kegembiraan saat melihat para tunas-tunas muda ini tampil memainkan alat musik dengan percaya diri atau bersalaman dengan satria saat timnya belum meraih kemenangan. Inilah perwujudan revolusi mental yang tidak harus disampaikan dengan kata-kata sampai berbusa-busa.

Hilangnya pengaruh UN juga bukan musibah untuk para guru matematika dan ilmu alam, tapi justru memperkaya pengajaran mereka selama ini. Dalam pengamatan penulis terhadap para siswa Indonesia jenjang pendidikan menengah dan dasar yang mendapat kesempatan pendidikan di Amerika, mereka tampak sangat hafal dengan rumus dan bisa menyelesaikan soal hitungan dengan lebih cepat dibanding rekan sejawatnya. Akan tetapi saat mereka harus mengaplikasikan rumus tersebut dalam soal seperti dalam kehidupan sehari-hari, mereka gagap.

Dengan kesadaran akan multiple intelligence ini, para pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia hendaknya mulai melihat bahwa patahnya sayap UN bukanlah malapetaka. Justru runtuhnya kemahakuasaan UN ini akan membawa perspektif baru yang semakin luas bagi siswa, guru, orangtua dan segenap masyarakat bahwa kemajuan bangsa di masa depan akan kian cerah.

Informasi Terbaru

Back To Top