Guru Zaman Dulu, Guru Zaman Sekarang Pejuang Tak Tergantikan

Info Kuipper School.
Perjalanan perjuanagan bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari peran seorang guru, sehingga para guru yang berjuang dalam merebut kemerdekaan dengan cara mendidik para warga pribumi telah memberikan warna sendiri dalam membentuk sikap dan watak manusia Indonesia pada waktu itu untuk dengan tegas menolak segala macam bentuk penjajahan dan diskriminasi.

Peran para guru dalam memupuk rasa kebangsaan, telah melahirkan orang-orang besar yang dengan gigih serta pandangan  yang jauh menatap masa depan melampaui pemikiran orang-orang pada waktu itu, sehingga melahirkan sebuah karya monumental dengan berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945 tidak akan lepas dari peran seorang "Sukarno" yang sejak kecil telah merasakan berbagai ketidak adilan yang dirasakannya, yang dilakukan oleh para penjajah imprealis Belanda, dan ketika beranjak dewasa dipertemukan dengan seorang guru bangsa di kota Surabaya, yaitu Haji Oemar Said Cokroaminoto, yang telah banyak mengubah pandangan hidupnya dan orientasi perjalanan kehidupannya.

Puncak dari perjalanan seorang Sukarno yang dibimbing rasa nasionalismenya oleh orang yang bergelar "Raja Jawa tak bermahkota" HOS Cokroaminoto, dengan lantang dan penuh percaya diri bersama tokoh-tokoh bangsa pada waktu itu dengan berani memproklamirkan sebuah negara, sebagai tonggak awal untuk meretas jalan emas menuju kehidupan yang lebih baik.

Jauh sebelum kemerdekaan itu diproklamirkan, perjalanan perubahan arah kehidupan bangsa Indonesia pada waktu itu diawali ketika orang-prang terpelajar yang telah tersentuh dengan pendidikan yang secara intens mendapat bimbingan dari para guru yang penuh integritas dan tanggung jawab untuk merubah cara pandang kaum pribumi, diawali dengan sebuah gerakan kebangkitan nasional.

Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Multatuli, tentu kita sudah sering mendengar namanya. Hanya namanya. Apa sepak terjangnya? Pria berkebangsaan Belanda yang lahir 2 Maret 1820 lalu ini memiliki andil sangat besar terutama dalam perjalanan sejarah di Indonesia. Selama 20 tahun ia berkarya dan melancarkan ide-idenya tentang kemanusiaan dan ketidakadilan di Indonesia. Dapat dirasakan ide dan tulisannya berhasil memberikan pengaruh positif, sehingga sangat dirasakan oleh bangsa Indonesia di saat sangat dibutuhkan.

Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (Sekolah Kedokteran) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa “kaum tua” yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.

Tokoh-tokoh Bangsa (sekaligus pendidik) yang mempolopori Kebangkitan Nasional, antara lain yaitu: Sutomo, Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker dan lain-lain.

Dua puluh tahun kemudian, lahirlah Sumpah Pemuda sebagai bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin sebagai berikut:
  • Pertama:  Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 
  • Kedoewa: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. 
  • Ketiga:  Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. 
Kongres Sumpah Pemuda pada bulan Oktober 1928, susunan panitianya (yang kebanyakan Pendidik) dengan setiap jabatan dibagi kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan) sebagai berikut:
  • Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI) 
  • Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java) 
  • Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond) 
  • Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond) 
  • Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond) 
  • Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia) 
  • Pembantu III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes) 
  • Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon) 
  • Pembantu V: Mohammad Rochjani Su’ud (Pemoeda Kaoem Betawi) 
Pada masa penjajahan guru tampil dan ikut mewarnai perjuangan bangsa indonesia. Semangat kebangsaan Indonesia tercermin dan terpatri dari guru pada masa penjajahan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari lahirnya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman belanda pada tahun 1912 dengan nama persatuan guru hindia belanda. Organisasi ini merupakan dari guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah.

Dengan semangat perjuangan dan kebangsaan yang menggelora, para guru pribumi menuntut persamaan hak dan kedudukan dengan pihak belanda. Semangat perjuangan guru terus bergelora dan memuncak serta mengalami pergeseran cita-cita perjuangan yang lebih hakiki lagi, yaitu Indonesia merdeka.

Dalam konteks kekinian, peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh berbagai macam profesi lain, sehingga pemerintah menyadari peran para pendidik ini dengan memberikan kebijakan yang mengatur kebradaan guru berikut kesejahteraannya.

Tak bisa dipungkiri ada berbagai macam lompatan perbaikan yang dialami para guru, baik dalam kedudukan profesinya maupun perbaikan kesejahteran, yang telah diakui dengan lahirnya undang-undang dan peraturan yang bersentuhan dengan guru serta pendidikan secara umum, namun patut menjadi catatan pula, masih banyak agenda pemerintah yang belum sepenuhnya dapat menuntaskan permasalahan guru dan dunia pendidikan untuk segera diselesaikan. Selamat berjuang para guru sekalian..!!

Informasi Terbaru

Back To Top