Akibat Negatif Jika Kegiatan Pembelajaran Dilakukan Dengan Cara Seperti Ini!!

Info Kuipper School.
Seorang guru diakui mempunyai peran yang amat penting dalam sebuah proses pembentukan kepribadian anak-anak didiknya, bahkan sering kali dijumpai, pengaruh yang dilakukan oleh seorang guru dapat melebihi peran dari orang tua seorang anak didik, menghadapi sebuah interaksi pembelajaran peran semacam ini mesti disadari betul oleh para guru.

Dalam menjalankan tugasnya guru mempunyai style atau gaya yang berbeda-beda.Gaya seorang guru dipengaruhi oleh karakter guru yang terbentuk dari pengalaman hidup yang dialami. Tidak jarang guru dalam mengajar terpengaruh oleh gaya mengajar guru saat yang bersangkutan duduk di bangku sekolah.

“Guru yang menerapkan tipe mengajar otoriter cenderung memperlihatkan kekuasaan yang mutlak atas peserta didik dan pola pembelajaran yang interaktif sangat kurang untuk di implementasikan terhadap materi yang diberikan. Nah, pola seperti ini jelas akan berdampak buruk bagi siswa,” ujar Dr Mohammad Abduhzen eksekutif institute for education reform (IER) Universitas Paramadina, yang juga merupakan ketua Balitbang PB PGRI.

Dijelaskan, tipe guru otoriter juga biasanya menerapkan pola pembelajaran yang monoton, sehingga membuat suasana belajar tidak menarik dan akan berdampak kepada nalar siswa yang kurang berkembang.
“Hasil Program for International Student Assessment (PISA, red) terbukti Indonesia berada pada urutan ke 64 dari 65 negara, dan ini merupakan hasil yang paling buruk. Berdasarkan riset dampak dari rendahnya kemampuan siswa karena pola pembelajaran yang diterapkan guru tidak demokratis dan interaktif sehingga membatasi kemampuan siswa untuk berkembang,” jelasnya.

Lanjutnya, selayaknya orang dengan karakter otoriter tidak sepantasnya berprofesi sebagai guru, dengan gaya otoriter tentunya akan membunuh potensi positif siswa yang seharusnya diberi raung untuk berkembang. “Apalagi jika sang guru mengajar di tingkat pendidikan SD, guru yang demikian akan menggoreskan pengalaman traumatik bagi peserta didik,” kata Abduh.

Ia menghimbau, pola pembelajaran yang diterapkan oleh guru harus demokratis dan membangun suasana yang interaktif sehingga siswa diberikan kebebasan untuk berekspresi dengan mengembangkan potensi yang dimiliki. “Pola pembelajaran yang demokratis sangat diperlukan dan dapat menjadikan siswa lebih kreatif dan bebas menyampaikan sesuatu saat berada di sekolah".

Pada kegiatan pelatihan guru untuk pendidikan demokrasi diikuti sebanyak 50 guru SMP, SMA negeri dan swasta Kota Palembang yang dikhususkan untuk guru yang mengajar mapel Agama, Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Ilmu Pengetahuan.

Menyadari begitu pentingnya peran seorang guru dalam pembentukan watak dan karakter anak, hendaknya setiap guru untuk terus-menerus mengevaluasi metode pembelajaran yang dilakukannya, serta berani untuk memperbaiki setiap kekurangan yang dimilikinya.

Informasi Terbaru

Back To Top